Dari Simpang Rasau ke Sinar Dewa, Jejak Sejarah Desa di PALI
Foto Kepemimpinan Era Sekarang - 2026
Jauh sebelum menjadi Desa Sinar Dewa, kawasan di Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, dikenal masyarakat sebagai Simpang Rasau atau Talang Rasau. Dari kawasan yang dahulu hanya dihuni beberapa keluarga dan dipenuhi padang lalang, permukiman itu kini berkembang menjadi desa dengan 2.124 penduduk.
Menurut keterangan tokoh adat dan masyarakat setempat, sejarah permukiman tersebut tidak lepas dari sosok Rasau. Ia dikenal sebagai salah satu orang pertama yang membuka kawasan itu. Rumah Rasau berada di sekitar simpang empat yang kemudian menjadi titik berkumpul warga.
Di lokasi tersebut pernah berdiri sebuah balai dengan tiang kayu trembesu. Balai itu menjadi tempat warga berkumpul, bermain gasing dan menjalankan kegiatan bersama. Dari sinilah nama Talang Rasau atau Simpang Rasau kemudian dikenal dan diwariskan turun-temurun.
Tetua masyarakat Saparudin memperkirakan Simpang Rasau sudah terbentuk sekitar 1940. Saat itu rumah penduduk masih sedikit, sementara sebagian besar wilayah berupa lahan terbuka dan padang lalang yang rawan terbakar saat kemarau.
Kehidupan ekonomi warga pada masa awal bertumpu pada tanaman pangan seperti ubi, keladi, tembalung, kacang-kacangan dan sayuran. Hasilnya dibawa menggunakan angkong atau gerobak sapi untuk dijual maupun ditukar dengan kebutuhan lain.
Memasuki sekitar 1970–1977, perkebunan karet mulai berkembang dan perlahan menjadi sumber penghasilan utama masyarakat. Pasar kalangan kemudian hadir sekitar 1980–1981, setiap Minggu, sehingga warga tidak lagi harus pergi jauh untuk menjual hasil kebun dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sekitar 2000, nama Sinar Dewa mulai digunakan. Menurut cerita turun-temurun, penamaan tersebut berkaitan dengan kawasan Panta Dewa, Karta Dewa dan cerita mengenai Puyang Dewa. Kisah tentang sosok Puyang Dewa, termasuk cerita mengenai kesaktiannya, merupakan bagian dari sejarah lisan dan kepercayaan masyarakat.
Warisan lain yang masih dikenang adalah sumber air rembesan yang sejak masa Rasau dialirkan menggunakan pipa. Warga menyebut sumber tersebut tetap mengalir bahkan ketika kemarau.
Secara administratif, Sinar Dewa kini terdiri atas empat dusun, yakni Dusun 1 dan 2 di kawasan Simpang Rasau serta Dusun 3 dan 4 di Sebadak. Data Kantor Desa Februari 2025 mencatat 610 rumah tangga, 2.124 penduduk, luas wilayah sekitar 2.400 hektare, dan dua Poskesdes.
Desa Sinar Dewa saat ini dipimpin Husin Bambang Wibowo. Perjalanan dari Simpang Rasau hingga menjadi desa mandiri menunjukkan bagaimana sebuah permukiman tumbuh dari jejak para pembuka wilayah, perkebunan, pasar, sumber air hingga berkembang menjadi komunitas desa.
Bagi masyarakat Sinar Dewa, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Nama Rasau, sumber air, pasar kalangan, hingga kisah Puyang Dewa menjadi potongan ingatan yang membentuk identitas desa hingga sekarang.
Editor :Tim Sigapnews